DOA LINTAS AGAMA

Bandar Lampung, 2 Juni 2018 – “Entah bagaimana tercapainya persatuan itu, entah bagaimana rupanya persatuan iu, akan tetapi yang membawa kita ke Indonesia merdeka adalah persatuan.” Kalimat yang diucapkan oleh bapak pendiri bangsa Indonesia, Soekarno, menjadi pembuka acara Doa Lintas Agama yang diadakan di aula SMA Fransiskus. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Kelahiran Pancasila dan menjadi bentuk solidaritas serta simpati warga sekolah atas peristiwa bom yang terjadi di Surabaya beberapa pekan lalu. Dengan dihadiri oleh siswa siswi yang berasal dari 5 agama berbeda, para guru dan para suster FSGM, diharapkan melalui kegiatan Doa Lintas Agama, setiap pribadi dapat saling menghormati perbedaan yang ada, menjaga dan melindunginya sesuai dengan ideologi Negara Indonesia.

Acara dimulai pada pukul 19.00 WIB dengan penghantar yang dibawakan oleh Sr. Anslina FSGM dan dilanjutkan dengan menyanyikan hymne sekolah, Fransiskus Magnanimus. Setelah itu disambut dengan menyanyikan lagu pembuka Doa Kami dan menonton cuplikan video perumusan pancasila dari film SOEKARNO. Sesuai dengan tema acara yaitu 100% Pancasila 100% Fransiskus, semua orang yang hadir didorong untuk mengerti betapa sakralnya nilai ideologi Negara kita, Pancasila. Begitupun dengan puisi yang dibacakan oleh Marcellino Haryadi mengenai fakta bahwa kondisi Negara saat ini memprihatinkan, mendorong perefleksian setiap orang yang hadir menuju doa dan ibadat 5 agama selanjutnya. Agama Kristen, Buddha, Hindu, Islam, dan Katolik Bergantian secara berurutan beribadah dan mlantunkan doa menurut kepercayaan masing-masing. Selepas ibadat dan doa dalam lima agama, Sr. Anselina mempersilahkan Bapak. Ig. Darmadi CP, S.Pd untuk memberikan peneguhan. Beliau mengulas sedikit mengenai sejarah terbentuknya Pancasila dengan titik tekan pada betapa pentingnya Pancasila. Acara dilanjutkan dengan doa permohonan yang dibawakan oleh tiap agama. Begitu doa selesai, lagu Kita Bhinneka, Kita Indonesia menghantar ke acara berikutnya yaitu Perarakan Lilin. Setelah semua orang berkumpul di lapangan dengan posisi melingkar, cahaya lilin sudah menerangi kegelapan malam membentuk satu kata, NKRI. Acara diakhiri dengan perenungan singkat mengenai NKRI dan doa penutup dibawakan serta pemberian berkat dilakukan oleh Romo Jati. Acara malam itu ditutup dengan menyanyikan bersama lagu Pancasila Rumah Kita. (Irene Effendy)

♥ Tanpa persatuan, Indonesia tidak akan pernah ada. JATI DIRI bangsa Indonesia ada pada PERSATUAN PERBEDAAN yang ada di antara kita ♥